Keajaiban Air Zam-zam dapat Menyembuhkan Kencing Batu

Adalah Bapak H. Hariyanto, salah satu jamaah haji asal Blitar yang menuturkan dengan penuh semangat kisah keajaiban air Zam zam yang dialaminya dalam hidupnya ketika menunaikan rukun Islam ke 5 tahun 2006/2007 1427 H.

Sebelum berangkat ke Tanah Suci, Beliau menderita sakit kencing batu atau batu ginjal. Berbagai upaya medis telah dilakukan dan sehari-hari harus mengkonsumsi obat yang diresepkan telah dokter, dan itu berjalan cukup lama.

Beliau menuturkan bahwa ketika kambuh, sakit yang luar biasa dirasakannya. Nah pada saat beliau menunaikan ibadah haji tahun 1247 H, kendala utama yang masih dirasakan adalah penyakit tadi, sehingga dengan semangat yang luar biasa rasa sakit itu terkalahkan oleh kenikmatan bisa manjalankan rukun Islam ke 5 di tanah Suci. Baca lebih lanjut

Memberi di Tanah Suci, Mendapat Balasan di Tanah Air

Usai shalat subuh, Pak Tarmo duduk-duduk sambil melihat keindahan masjid. Tiba-tiba datang seorang India. Dengan berbahasa Inggris, orang India itu mengatakan kepada Pak Tarno bahwa uangnya yang di kopor hilang. Orang itu meminta bantuan pinjaman uang. Dengan rela Pak Tarno memberinya lima ratus riyal.

Setelah itu baru Pak Tarno ingat bahwa ia telah memberi uang pada seseorang tanpa terlebih dahulu memberitahu pada istrinya. Sedangkan pada saat itu istrinya sedang berada di Raudhah. Lama juga ia berpikir tentang kejadian itu. Sampai pulang ke tanah air, Pak Tarno tidak pernah bertemu lagi dengan orang itu.

Pada suatu hari, datang seseorang ke rumahnya di Bandung. Kata orang itu, “Ini uang dari si A.”

“Siapa si A?” tanya Pak Tarno heran.

“Bapak tidakakan tahu nama dia,” jawab orang itu merahasiakan dari siapa sebenarnya uang itu.

“Dalam rangka apa?” Pak Tarno bertanya lagi dengan penuh penasaran.

“Bukan dalam rangka apa-apa,” jawabnya pendek.

Ketika amplop itu dibuka ternyata betul berisi uang yang banyaknya lebih besar daripada yang telah ia berikan pada waktu itu di Tanah Suci.

Allahu Akbar. Ternyata Allah Maha Membalas dan tidak akan pernah lupa akan kebaikan hamba-hamba-Nya.

Sumber: 100 Keajaiban di Tanah Suci

Pencuri Hajar Aswad yang Binasa

Di antara kalangan Qaramithah terdapat salah seorang musuh Allah, Raja Bahraih, Abu Thahir Qirmithi Sulaiman bin Abi Sa’id yang memimpin pasukan untuk menyerang Baitullah. Orang-orang tidak menyadari bahwa hari senin tersebut adalah Hari Tarwiyah, kecuali setelah Abu Thahir membawa 700 pengikutnya. Mereka masuk Masjidil Haram dan membabi buta membantai para jamaah haji di Tanah Haram.

Kemudian ia mendatangi Hajar Aswad dan memukulnya dengan alat pencongkel dan memcahnya. Kemudian ia mencongkelnya setelah shalat Ashar hari senin tanggal 14 Dzulhijah. Lantas ia kembali ke daerahnya (Bahrain) dengan membawa Hajar Aswad. Ia bermaksud menjadikan ibadah haji berada di tempatnya. Namun niatnya itu tidak akan berhasil dan sia-sia belaka, sebagaimana yang dialami pendahulunya, Abrahah.

Ada yang mengatakan bahwa ada 40 onta yang mati saat membawa Hajar Aswad. Sedangkan pada saat dikembalikan, Hajar Aswad dibawa oleh seekor onta yang kurus.

Tempat Hajar Aswad di Ka’bah menjadi kosong. Orang-orang pun menempelkan tangan mereka di tempat tersebut untuk mencari barokah sampai Hajar Aswad dikembalikan ke tempatnya semula di Ka’bah, yaitu setelah kebinasaan Abu Thahir Qirmithi secara mengenaskan tahun 332 H. Hajar Aswad berada di tangan Qirmithi dan para pengikutnya selama 22 tahun kurang empat hari.

Sumber: Keajaiban Hajar Aswad dan Maqom Ibrohim, hlm. 33-34

Tujuh Kali Naik Haji Tidak Bisa Melihat Ka’bah

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.

Baca lebih lanjut

Menjadi Mahasiswa Terbaik dan Membangun Rumah Tangga Sakinah Berkat Haji

Makkah merupakan Kota Suci umat Islam yang memiliki keistimewaan dari jaman dahulu hingga sekarang. Terutama Ka’bah yang menjadi kiblat shalat umat Islam mempunyai keutamaan yang tidak dimiliki oleh bangunan lainnya. Sehingga tidak heran jika di tempat tersebut seringkali terjadi keajaiban yang mencengangkan hati, tidak masuk akal tetapi terjadi secara nyata.

Alkisah, kawan karibku—saat itu kuliah di Al-Azhar Mesir—ingin pergi haji memenuhi panggilan Ilahi. Di saat yang sama, ada seorang akhwat yang seangkatan dengannya juga berkeinginan untuk pergi haji. Namun, Pemerintah Saudi mensyaratkan bagi setiap perempuan yang ke Tanah Suci harus memiliki mahram. Keputusan ini sifatnya mutlak dan tidak bisa ditawar. Akhirnya mau tidak mau akhwat tersebut mencari muhrim yang siap mendampinginya untuk memenuhi persyaratan tersebut. Sebenarnya ada beberapa orang yang siap menjadi akhwat tersebut, tetapi karena pertimbangan akhlak, dan perilaku yang mulia, maka akhwat itu memutuskan untuk meminta kawanku menjadi muhrimnya. Baca lebih lanjut

Diselamatkan Dari Tragedi Terowongan Mina

Ketua bidang Percepatan Pembangunan Desa salah satu partai politik di Indonesia ini sudah berulang kali menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. “Soalnya, berhaji memberikan ketenangan tersendiri buat saya. Belum lagi janji Allah bahwa haji mampu menghapus kesalahan kita,” ujar H Bahauddin Thonti menerangkan alasan kenapa ia berulang kali menunaikan haji.

Yang jelas, selama beberapa kali menunaikan ibadah haji, ayahanda artis Ulfa Dwiyanti ini mengalami beberapa kejadian yang luar biasa. Di antaranya terjadi pada musim haji tahu 1995, tepatnya setahun setelah ambruknya terowongan Mina yang menewaskan ratusan jamaah haji. Baca lebih lanjut

Kitab Kuning yang Terselamatkan

Kisah nyata ini dialami oleh seorang ibu dari Pekalongan Jawa Tengah. Sebelum berangkat menunaikan haji, anaknya yang mengaji di Pondok Pesantren Al-Falah, Kediri, Jawa Timur memintanya untuk membelikan kitab-kitab kuning yang diajarkan di Pondoknya. Karena kitab-kitab itu sulit didapatkan atau bahkan tidak dijual di Indonesia, maka dia meminta ibunya untuk membelikannya di Makkah. Baca lebih lanjut